Apa yang sedang kamu bicarakan? Keadaanku? Atau keadaanmu?
Sangat mudah bagimu untuk berkata "ini mudah"
Tapi tahukah kamu...??
Sangat mudah bagiku untuk berkata "ini sangat berat"
Kamu tak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya, tapi kamu dengan santai berkata "apa yang terasa berat? hanya terasa kan?? ini sangat mudah"
Hei, itu sangat menyakitkan untukku...
Kamu seolah berkata aku sangat bodoh karena tidak bisa melakukannya seperti kamu.
Seandainya aku bisa mengatakan betapa keadaan yang sebenarnya sangat tidak adil untukku. Betapa perjuanganku selama ini menjadi sangat sia-sia dan tak berarti.
Karena sekali lagi aku terhenti.. membuatku kembali berhenti.. di titik awal aku harus memulai sekali lagi..
Tapi apa aku harus mengatakan semuanya padamu? Untuk apa? Untuk sekedar kamu dengarkan dan kemudian kamu kecilkan?
Tidak.. aku tidak butuh itu semua. Terima kasih.
Cukup bagiku untuk berjuang seorang diri mengumpulkan sisa asa dan semangat.
Aku masih bisa berdiri sendiri di sini demi senyum bangga mereka nanti.
Showing posts with label cerita mereka. Show all posts
Showing posts with label cerita mereka. Show all posts
1.4.11
21.2.11
adakah kita?
Di suatu senja, Lelaki meminta untuk bertemu dengan Perempuan.
"Ada apa kamu ingin menemuiku?"
Perempuan terdiam.
"Apa kamu bahagia?"
"Ya, aku bahagia. Kenapa? Bagaimana denganmu?"
"Apa pedulimu aku bahagia atau tidak? Itu bukan urusanmu."
"Hei, salahkah aku jika menanyakan hal yang sama padamu? Kenapa kamu selalu membuat semua menjadi sangat rumit?"
"Dan salahkah aku jika tak ingin menjawab pertanyaanmu? Apa pedulimu jika aku bahagia atau tidak? Toh kamu pun telah membuatku merasa tidak bahagia."
"Sudahlah. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin melihatmu, berbicara santai denganmu seperti yang sering kita lakukan dulu."
"Tapi semua kini sudah berubah. Kita tak akan pernah bisa sama seperti dulu. Bukankah kamu sudah bahagia dengannya? Tak perlu kamu mengurusi aku lagi."
"Dan tak bolehkah aku juga ingin merasa bahagia saat bersamamu? Haruskah kita selalu bertengkar seperti ini? Bukankah dulu kamu berkata bahwa kita tetap berteman?"
"Aku ingin kamu bisa tetap tinggal di sisiku. Aku ingin kamu pun merasa bahagia, sama seperti aku."
"Tapi kamu tak pernah satu kali pun memintaku untuk tinggal... Bisakah aku tetap merasa bahagia denganmu? Ya, kita tetap teman.. Nanti, ketika aku merasa siap untuk menemuimu.."
Perempuan beranjak pergi meninggalkan Lelaki.
"Aku hanya ingin merasa bahwa kamu tetap kamu, Perempuan yang ku sayang..." kata Lelaki pelan, memandang Perempuan yang berjalan menjauh.
Satu tanya menghantui pikiran Lelaki. "Berapa lama aku harus menunggu untuk bisa melihat senyum Perempuan lagi untukku?"
"Ada apa kamu ingin menemuiku?"
"Tak apa, aku hanya ingin melihatmu. Aku rindu padamu."
Perempuan terdiam.
"Apa kamu bahagia?"
"Ya, aku bahagia. Kenapa? Bagaimana denganmu?"
"Apa pedulimu aku bahagia atau tidak? Itu bukan urusanmu."
"Hei, salahkah aku jika menanyakan hal yang sama padamu? Kenapa kamu selalu membuat semua menjadi sangat rumit?"
"Dan salahkah aku jika tak ingin menjawab pertanyaanmu? Apa pedulimu jika aku bahagia atau tidak? Toh kamu pun telah membuatku merasa tidak bahagia."
"Sudahlah. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin melihatmu, berbicara santai denganmu seperti yang sering kita lakukan dulu."
"Tapi semua kini sudah berubah. Kita tak akan pernah bisa sama seperti dulu. Bukankah kamu sudah bahagia dengannya? Tak perlu kamu mengurusi aku lagi."
"Dan tak bolehkah aku juga ingin merasa bahagia saat bersamamu? Haruskah kita selalu bertengkar seperti ini? Bukankah dulu kamu berkata bahwa kita tetap berteman?"
"Aku ingin kamu bisa tetap tinggal di sisiku. Aku ingin kamu pun merasa bahagia, sama seperti aku."
"Tapi kamu tak pernah satu kali pun memintaku untuk tinggal... Bisakah aku tetap merasa bahagia denganmu? Ya, kita tetap teman.. Nanti, ketika aku merasa siap untuk menemuimu.."
Perempuan beranjak pergi meninggalkan Lelaki.
"Aku hanya ingin merasa bahwa kamu tetap kamu, Perempuan yang ku sayang..." kata Lelaki pelan, memandang Perempuan yang berjalan menjauh.
Satu tanya menghantui pikiran Lelaki. "Berapa lama aku harus menunggu untuk bisa melihat senyum Perempuan lagi untukku?"
Categories
cerita cinta,
cerita mereka
tangan-tangan kita
Kawan...
Ada apa denganmu?
Tak bisakah bagimu memaafkan?
Sulitkah bagimu melupakan?
Apakah kebersamaan kita selama ini harus musnah hanya karena satu kesalahan?
Aku tak pernah berniat membenarkan ataupun menyalahkan salah satu dari kita.
Aku tahu benar untukku belum tentu sama benarnya bagimu.
Begitu pula sebaliknya...
Kawan...
Aku hanya tak ingin kita saling melepaskan tangan..
Karena ketika kamu melepaskan pegangan tangan kita, maka aku tak akan berlari mengejar untuk tetap memintamu tinggal...
Tak pernah sedikitpun aku bermaksud semudah itu melepaskan.
Hanya saja aku tak ingin memaksa untuk tidak meninggalkan...
Ada apa denganmu?
Tak bisakah bagimu memaafkan?
Sulitkah bagimu melupakan?
Apakah kebersamaan kita selama ini harus musnah hanya karena satu kesalahan?
Aku tak pernah berniat membenarkan ataupun menyalahkan salah satu dari kita.
Aku tahu benar untukku belum tentu sama benarnya bagimu.
Begitu pula sebaliknya...
Kawan...
Aku hanya tak ingin kita saling melepaskan tangan..
Karena ketika kamu melepaskan pegangan tangan kita, maka aku tak akan berlari mengejar untuk tetap memintamu tinggal...
Tak pernah sedikitpun aku bermaksud semudah itu melepaskan.
Hanya saja aku tak ingin memaksa untuk tidak meninggalkan...
Categories
cerita kita,
cerita mereka
6.2.11
aku dan kamu
"jangan pernah hanya dengan melihat lalu kamu menilai siapa yang lebih menderita dan siapa yang lebih bahagia..."
Aku tidak mengerti... Dengan tenang kamu berkata kamu menderita sementara aku tersenyum bahagia. Sebenarnya apa yang sedang kamu lihat Kawan? Seperti apa "menderita" dan "bahagia" yang sedang kamu ukur?
Satu hal yang perlu kamu tahu Kawan.. Ada kalanya seseorang memiliki sesuatu yang dia simpan hanya untuk dirinya sendiri. Kamu tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang kamu lihat.
Sadarlah Kawan.. Terkadang aku pun ingin sedikit berkeluh kesah padamu. Paling tidak dengarkan sejenak ceritaku. Tapi aku tak bisa berkata banyak. Aku sadar kamu pun pasti memiliki masalah sendiri. Pantaskah aku menambah masalahmu dengan masalahku? Aku sungguh tak tega.. Jadi biarkan masalahku tetap menjadi milikku saja..
Ingatlah Kawan, dunia tak selalu berporos padamu.. Jika memang tak ada sedikitpun waktumu untukku, biarkan aku menikmati waktu untuk diriku sendiri.
Aku tidak mengerti... Dengan tenang kamu berkata kamu menderita sementara aku tersenyum bahagia. Sebenarnya apa yang sedang kamu lihat Kawan? Seperti apa "menderita" dan "bahagia" yang sedang kamu ukur?
Satu hal yang perlu kamu tahu Kawan.. Ada kalanya seseorang memiliki sesuatu yang dia simpan hanya untuk dirinya sendiri. Kamu tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang kamu lihat.
Sadarlah Kawan.. Terkadang aku pun ingin sedikit berkeluh kesah padamu. Paling tidak dengarkan sejenak ceritaku. Tapi aku tak bisa berkata banyak. Aku sadar kamu pun pasti memiliki masalah sendiri. Pantaskah aku menambah masalahmu dengan masalahku? Aku sungguh tak tega.. Jadi biarkan masalahku tetap menjadi milikku saja..
Ingatlah Kawan, dunia tak selalu berporos padamu.. Jika memang tak ada sedikitpun waktumu untukku, biarkan aku menikmati waktu untuk diriku sendiri.
Categories
cerita mereka
22.1.11
di persimpangan jalan
Kamu berkata aku berubah, berbeda, lebih cuek dan tidak peka. Tapi aku pun manusia biasa Kawan.. terkadang aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Terkadang aku ingin kamu juga bisa mengerti aku. Bukankah itu wajar? Karena aku pun merasa kamu pun demikian adanya.
Kamu sudah berjalan lebih jauh di depanku Kawan.. Apa lagi yang kamu takutkan? Seharusnya aku yang merasa takut dan meminta kesediaanmu untuk tetap berada di sampingku, membantuku tetap berdiri di saat aku mulai rapuh dan terjatuh.
Aku tak meminta banyak padamu Kawan... Aku hanya ingin pengertian darimu..
Maaf jika aku masih sahabat yang buruk bagimu, tak seperti mereka yang menurutmu lebih baik dariku.
Maaf jika aku masih sering bersikap egois, memikirkan diriku sendiri, tak mendengarkan maumu.
Maaf jika aku cuek terhadap masalahmu, tak berada di sampingmu ketika kamu butuh kehadiranku.
Maaf jika aku tak peka terhadap kesedihanmu, tak menghiburmu saat kamu ingin mengusir semua resahmu.
Maaf jika aku tak bisa memberi tanggapan yang kamu harapkan di saat kamu bercerita.
Maaf jika selama ini kamu merasa aku hanya bisa menyusahkanmu, tak sedikitpun berarti bagimu.
Maaf Kawan... Aku benar-benar minta maaf...
Kamu sudah berjalan lebih jauh di depanku Kawan.. Apa lagi yang kamu takutkan? Seharusnya aku yang merasa takut dan meminta kesediaanmu untuk tetap berada di sampingku, membantuku tetap berdiri di saat aku mulai rapuh dan terjatuh.
Aku tak meminta banyak padamu Kawan... Aku hanya ingin pengertian darimu..
Maaf jika aku masih sahabat yang buruk bagimu, tak seperti mereka yang menurutmu lebih baik dariku.
Maaf jika aku masih sering bersikap egois, memikirkan diriku sendiri, tak mendengarkan maumu.
Maaf jika aku cuek terhadap masalahmu, tak berada di sampingmu ketika kamu butuh kehadiranku.
Maaf jika aku tak peka terhadap kesedihanmu, tak menghiburmu saat kamu ingin mengusir semua resahmu.
Maaf jika aku tak bisa memberi tanggapan yang kamu harapkan di saat kamu bercerita.
Maaf jika selama ini kamu merasa aku hanya bisa menyusahkanmu, tak sedikitpun berarti bagimu.
Maaf Kawan... Aku benar-benar minta maaf...
Categories
cerita kita,
cerita mereka
20.1.11
untuk kamu
Sudah bertahun-tahun kita bersama, mencoba untuk bisa seiring sejalan memberi warna indah persahabatan. Benar-benar terasa waktu yang sudah kita jalani bersama. Suka, duka, senang, sedih, tangis, tawa, marah, kecewa,. Semua pernah kita rasakan sebagai warna lengkap pelangi.
Meski jalan yang kita lalui tak selalu mudah, mulus dan lurus. Meski kerikil tajam sering membuat kita tersandung. Meski pemandangan yang ditunjukkan tak selalu indah. Dan meski terkadang jalan kita berselisih jalan. Tapi kita selalu percaya bahwa kita pasti mampu mengatasinya. Kita percaya bahwa akan selalu ada tangan yang siap menyambut kita, akan selalu ada telinga untuk mendengar keluh kesah kita, akan selalu ada mulut yang tak henti mendoakan dan memberi semangat, akan selalu ada hati yang menerima kita sebagai sahabat. Dan kita percaya bahwa perjalanan yang telah kita lalui bersama akan semakin menambah indahnya persahabatan.
Mungkin terkadang kita berselisih paham, berbeda jalan, saling bersinggungan, mendahulukan ego pribadi, tanpa sadar telah menyakiti, tak bisa saling mengerti, merasa kesal, sebal, marah, kecewa, dan perasaan negatif lain.
Tetapi kita juga pernah tertawa bersama, berjuang, saling memberi semangat, bercerita tanpa henti, melakukan kegilaan.
Kita pernah menorehkan warna, menerbangkan angan, menggapai mimpi, menciptakan kenangan, membuat beribu cerita yang semoga akan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan kita.
miss u all guys.. ^^
Meski jalan yang kita lalui tak selalu mudah, mulus dan lurus. Meski kerikil tajam sering membuat kita tersandung. Meski pemandangan yang ditunjukkan tak selalu indah. Dan meski terkadang jalan kita berselisih jalan. Tapi kita selalu percaya bahwa kita pasti mampu mengatasinya. Kita percaya bahwa akan selalu ada tangan yang siap menyambut kita, akan selalu ada telinga untuk mendengar keluh kesah kita, akan selalu ada mulut yang tak henti mendoakan dan memberi semangat, akan selalu ada hati yang menerima kita sebagai sahabat. Dan kita percaya bahwa perjalanan yang telah kita lalui bersama akan semakin menambah indahnya persahabatan.
Mungkin terkadang kita berselisih paham, berbeda jalan, saling bersinggungan, mendahulukan ego pribadi, tanpa sadar telah menyakiti, tak bisa saling mengerti, merasa kesal, sebal, marah, kecewa, dan perasaan negatif lain.
Tetapi kita juga pernah tertawa bersama, berjuang, saling memberi semangat, bercerita tanpa henti, melakukan kegilaan.
Kita pernah menorehkan warna, menerbangkan angan, menggapai mimpi, menciptakan kenangan, membuat beribu cerita yang semoga akan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan kita.
miss u all guys.. ^^
Categories
cerita kita,
cerita mereka
16.1.11
miss bossy
Hei kamu, hati-hati kalau bicara. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku. Kamu tak pernah berusaha menempatkan diri pada posisiku. Aku berusaha lebih keras dari kamu, lebih keras dari yang bisa kamu bayangkan. Pernahkah kamu mencoba melakukan hal yang sama?? Jangan hanya bicara omong kosong!! Kamu tak akan pernah tahu seperti apa rasanya jadi aku. Kamu seenak sendiri mengatakan pandanganmu tentang aku pada orang-orang. Menyebarkan berita negatif tentang aku. Menempatkan aku pada posisi orang yang sangat buruk. Apa urusanmu?? Apa pedulimu?? Kamu hanya seorang cewek yang egois, menempatkan prioritas diri sendiri di atas orang lain. Silahkan kamu terus saja menggonggong. Tak akan ada artinya lagi bagiku!!
Categories
cerita mereka
11.1.11
dan semua pun berakhir
"Kamu marah padaku?" tanya Lelaki pada Perempuan.
"Apa aku terlihat marah padamu? Aku biasa saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Tak perlu kamu mencari-cari kesalahanku" jawab Perempuan dengan wajah datar.
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini padaku?? Aku hanya tidak ingin hubungan kita rusak! Apa kamu masih belum mengerti?? Aku tidak ingin kehilangan kamu!! Aku sayang kamu!" teriak Lelaki.
"Aku merasa serba salah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung. Aku harap kamu bisa mengerti. Seperti kamu biasanya mampu mengerti perasaanku." lanjut Lelaki pelan.
Perempuan tertegun, tak ada kata-kata yang bisa diucapkan, semua terhenti.
"Kalau kamu benar tidak ingin kehilangan aku seharusnya kamu tahu apa yang kuinginkan. Seharusnya kamu tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Sesuatu yang bisa merusak hubungan kita. Untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa mengerti kamu. Tapi semua sudah terlambat. Ini keputusanmu. Tak perlu diteruskan lagi." jawab Perempuan pelan. Setitik embun bergelayut menggantung di kedua mata Perempuan.
"Seperti katamu dulu, kita masih berteman kan?" lanjut Perempuan sambil menatap mata Lelaki.
"Ya, kita teman..." jawab Lelaki sambil memalingkan pandangan, tak mau menatap balik Perempuan, berpura-pura tak melihat air mata yang memaksa keluar.
Perempuan terdiam, ikut memalingkan muka, menatap satu titik jauh di depan. Masa yang akan dia jalani tanpa pernah ada lagi Lelaki untuk Perempuan. Rasa sakit di hati sangat besar dan melukai begitu dalam. Perempuan merasa sedih, marah, kecewa, tak berdaya. Sekuat tenaga dipaksanya menahan air mata yang mengalir pelan di pipi.
Lelaki beranjak pergi, meninggalkan Perempuan sendiri di sudut sepi, tak pernah menoleh ataupun kembali.
Dan untuk ke sekian kalinya Perempuan menangis karena Lelaki...
Biarkan saja, semua sudah berakhir. Ini adalah akhir kisah kita. Paling tidak kini kamu sudah menemukan senyummu kembali, meski senyum itu tak akan pernah untukku lagi..
"Apa aku terlihat marah padamu? Aku biasa saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Tak perlu kamu mencari-cari kesalahanku" jawab Perempuan dengan wajah datar.
"Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini padaku?? Aku hanya tidak ingin hubungan kita rusak! Apa kamu masih belum mengerti?? Aku tidak ingin kehilangan kamu!! Aku sayang kamu!" teriak Lelaki.
"Aku merasa serba salah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung. Aku harap kamu bisa mengerti. Seperti kamu biasanya mampu mengerti perasaanku." lanjut Lelaki pelan.
Perempuan tertegun, tak ada kata-kata yang bisa diucapkan, semua terhenti.
"Kalau kamu benar tidak ingin kehilangan aku seharusnya kamu tahu apa yang kuinginkan. Seharusnya kamu tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Sesuatu yang bisa merusak hubungan kita. Untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa mengerti kamu. Tapi semua sudah terlambat. Ini keputusanmu. Tak perlu diteruskan lagi." jawab Perempuan pelan. Setitik embun bergelayut menggantung di kedua mata Perempuan.
"Seperti katamu dulu, kita masih berteman kan?" lanjut Perempuan sambil menatap mata Lelaki.
"Ya, kita teman..." jawab Lelaki sambil memalingkan pandangan, tak mau menatap balik Perempuan, berpura-pura tak melihat air mata yang memaksa keluar.
Perempuan terdiam, ikut memalingkan muka, menatap satu titik jauh di depan. Masa yang akan dia jalani tanpa pernah ada lagi Lelaki untuk Perempuan. Rasa sakit di hati sangat besar dan melukai begitu dalam. Perempuan merasa sedih, marah, kecewa, tak berdaya. Sekuat tenaga dipaksanya menahan air mata yang mengalir pelan di pipi.
Lelaki beranjak pergi, meninggalkan Perempuan sendiri di sudut sepi, tak pernah menoleh ataupun kembali.
Dan untuk ke sekian kalinya Perempuan menangis karena Lelaki...
***
Biarkan saja, semua sudah berakhir. Ini adalah akhir kisah kita. Paling tidak kini kamu sudah menemukan senyummu kembali, meski senyum itu tak akan pernah untukku lagi..
Categories
cerita cinta,
cerita mereka
tentang senja kala itu
Ketika senja mulai menghilang, mempersilahkan pekatnya hitam menghiasi langit malam, Lelaki dan Perempuan duduk bersebelahan dengan kesunyian nyata menyelimuti. Pikiran masing-masing sibuk merangkai kata-kata untuk diucapkan.
Sepuluh menit kemudian...
"Aku sudah memutuskan untuk melakukannya" Lelaki memecah kebisuan di antara mereka. Perempuan tetap bergeming, menampakkan raut wajah datar tak terbaca.
"Kamu kenapa? Tak apa-apa kan? Aku minta maaf. Aku benar-benar..."
"Kenapa minta maaf? Apa kamu telah melakukan kesalahan padaku?" potong Perempuan dengan nada tertahan dan sedikit meninggi.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Aku hanya... Yah, rasanya ini terlalu mendadak. Aku sedikit kaget. Kamu tak pernah cerita, dan kemudian.. Yah.. anyway, selamat ya. Aku senang mendengarnya. Aku ikut bahagia untukmu," lanjut Perempuan sambil tersenyum.
"...ya, terima kasih. Aku tahu kamu akan mengerti perasaanku saat ini. Kita masih berteman kan?"
"Ya, kita teman..." jawab Perempuan pelan, menghilang bersama angin yang tiba-tiba berhembus, membiarkan mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing.
Dering hp tanda sms masuk membuyarkan lamunan Perempuan.
"Udah buka puasa? Tadi sahur kan? Hayo, ga boleh bohong lho. Bohong itu dosa"
Sambil tersenyum Perempuan membalas sms dari Lelaki
"Haha.. Anak kecil juga tau kalo bohong itu dosa. Iya, aku udah makan kok. Tadi juga sahur, kan kamu yang bangunin. Besok lagi yaa... hehe"
Tak lama menunggu..
"Sip... Tiap hari aku pasti bangunin kamu buat sahur. Jaga kesehatan ya. Jangan tidur malam-malam dulu, kan harus sahur. Love you..."
Perempuan terdiam, tak percaya dengan apa yang tertera di layar hp.Berulang kali sms itu dibaca, mencoba mencerna maksud kalimat terakhir. Apa artinya? Benar untuk Perempuan kah? Atau hanya sekedar bercandaan tak penting?
"Makasih... Tenang, aku pasti jaga kesehatan. Kamu juga lho, jangan cuma bisa ngomong ke orang lain tanpa diri sendiri melakukan." balas Perempuan.
"Sepertinya kamu yang lebih penting untuk diingatkan selalu. Anak kecil juga tahu. haha.. Mmm.. Kok kalimat terakhir ga dibalas?"
Kembali Perempuan terdiam, tak tahu harus menjawab seperti apa. Ini benar-benar gambling. Beranikah Perempuan menanggapi? Akhirnya...
"Dilarang nggombal pas puasa loh.. hehe.. Udah jam segini, siap-siap tarawih sana,"
Hingga pagi menjelang, tak ada satupun sms balasan dari Lelaki.
Beberapa kali Lelaki menyisipkan kata itu di sms untuk Perempuan. Dan selalu Perempuan membalas dengan bercanda, tak mau membahas lebih jauh. Dan selalu Lelaki tak pernah membalas sms itu lagi.
Hingga kemudian, ketika Lelaki kembali menuliskan kata itu, Perempuan mengumpulkan seluruh nyali dan keberanian...
"Jaga diri baik-baik. Menjalani hidup seorang diri bukan berarti lantas hidup hanya untuk diri sendiri. Ada orang-orang yang ikut memikirkan kamu. Love you too.."
Tak ada balasan. Perempuan mulai meragu, menyisakan tanda tanya besar dan setumpuk penyesalan yang mendalam. Salahkah Perempuan?
***Perempuan masih terdiam, berusaha mencerna kata-kata yang tadi diucapkan Lelaki.
Kenapa tiba-tiba Lelaki memutuskan seperti itu? Kapan dia mengambil keputusan? Apa arti hubungan mereka selama ini? Apa arti Perempuan bagi Lelaki? Teman seperti kata Lelaki tadi kah?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Perempuan. Tak terjawab satupun pertanyaan.
Perempuan merasa Lelaki sungguh naif dan munafik. Perempuan merasa kecewa... Sangat kecewa...
Sepuluh menit kemudian...
"Aku sudah memutuskan untuk melakukannya" Lelaki memecah kebisuan di antara mereka. Perempuan tetap bergeming, menampakkan raut wajah datar tak terbaca.
"Kamu kenapa? Tak apa-apa kan? Aku minta maaf. Aku benar-benar..."
"Kenapa minta maaf? Apa kamu telah melakukan kesalahan padaku?" potong Perempuan dengan nada tertahan dan sedikit meninggi.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Aku hanya... Yah, rasanya ini terlalu mendadak. Aku sedikit kaget. Kamu tak pernah cerita, dan kemudian.. Yah.. anyway, selamat ya. Aku senang mendengarnya. Aku ikut bahagia untukmu," lanjut Perempuan sambil tersenyum.
"...ya, terima kasih. Aku tahu kamu akan mengerti perasaanku saat ini. Kita masih berteman kan?"
"Ya, kita teman..." jawab Perempuan pelan, menghilang bersama angin yang tiba-tiba berhembus, membiarkan mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing.
***
Beberapa bulan sebelumnya...Dering hp tanda sms masuk membuyarkan lamunan Perempuan.
"Udah buka puasa? Tadi sahur kan? Hayo, ga boleh bohong lho. Bohong itu dosa"
Sambil tersenyum Perempuan membalas sms dari Lelaki
"Haha.. Anak kecil juga tau kalo bohong itu dosa. Iya, aku udah makan kok. Tadi juga sahur, kan kamu yang bangunin. Besok lagi yaa... hehe"
Tak lama menunggu..
"Sip... Tiap hari aku pasti bangunin kamu buat sahur. Jaga kesehatan ya. Jangan tidur malam-malam dulu, kan harus sahur. Love you..."
Perempuan terdiam, tak percaya dengan apa yang tertera di layar hp.Berulang kali sms itu dibaca, mencoba mencerna maksud kalimat terakhir. Apa artinya? Benar untuk Perempuan kah? Atau hanya sekedar bercandaan tak penting?
"Makasih... Tenang, aku pasti jaga kesehatan. Kamu juga lho, jangan cuma bisa ngomong ke orang lain tanpa diri sendiri melakukan." balas Perempuan.
"Sepertinya kamu yang lebih penting untuk diingatkan selalu. Anak kecil juga tahu. haha.. Mmm.. Kok kalimat terakhir ga dibalas?"
Kembali Perempuan terdiam, tak tahu harus menjawab seperti apa. Ini benar-benar gambling. Beranikah Perempuan menanggapi? Akhirnya...
"Dilarang nggombal pas puasa loh.. hehe.. Udah jam segini, siap-siap tarawih sana,"
Hingga pagi menjelang, tak ada satupun sms balasan dari Lelaki.
Beberapa kali Lelaki menyisipkan kata itu di sms untuk Perempuan. Dan selalu Perempuan membalas dengan bercanda, tak mau membahas lebih jauh. Dan selalu Lelaki tak pernah membalas sms itu lagi.
Hingga kemudian, ketika Lelaki kembali menuliskan kata itu, Perempuan mengumpulkan seluruh nyali dan keberanian...
"Jaga diri baik-baik. Menjalani hidup seorang diri bukan berarti lantas hidup hanya untuk diri sendiri. Ada orang-orang yang ikut memikirkan kamu. Love you too.."
Tak ada balasan. Perempuan mulai meragu, menyisakan tanda tanya besar dan setumpuk penyesalan yang mendalam. Salahkah Perempuan?
***
Kenapa tiba-tiba Lelaki memutuskan seperti itu? Kapan dia mengambil keputusan? Apa arti hubungan mereka selama ini? Apa arti Perempuan bagi Lelaki? Teman seperti kata Lelaki tadi kah?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Perempuan. Tak terjawab satupun pertanyaan.
Perempuan merasa Lelaki sungguh naif dan munafik. Perempuan merasa kecewa... Sangat kecewa...
Categories
cerita cinta,
cerita mereka
25.12.10
celoteh kelam
Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam...
"Persetan dengan kalian semua!! Yang bisa kalian ucapkan hanya kata-kata semu. Tak ada yang benar. Omong kosong dengan janji-janji palsu itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Ini luapan amarahku padamu. Rasa kecewaku, juga sakit hatiku. Apakah yang kulakukan untukmu masih belum cukup?? Mengapa kalian selalu bersikap tidak adil kepadaku?? Aku lebih memilih diam, menuruti inginmu daripada melawan kehendakmu. Tapi sekarang justru luka baru yang kalian berikan padaku. Aku muak!!! Aku benci!!! Tidak cukup berartikah aku di mata kalian???"
Entah apakah dia masih sanggup bertahan dengan keadaan yang selalu berulang di mata dia. Tak peduli bagaimanapun kerasnya dia berusaha menyembuhkan luka yang dirasa, sakit itu akan tetap tinggal. Bahkan akan semakin parah karena selalu tak lama kemudian akan muncul luka baru yang menambah perih...
"Persetan dengan kalian semua!! Yang bisa kalian ucapkan hanya kata-kata semu. Tak ada yang benar. Omong kosong dengan janji-janji palsu itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Ini luapan amarahku padamu. Rasa kecewaku, juga sakit hatiku. Apakah yang kulakukan untukmu masih belum cukup?? Mengapa kalian selalu bersikap tidak adil kepadaku?? Aku lebih memilih diam, menuruti inginmu daripada melawan kehendakmu. Tapi sekarang justru luka baru yang kalian berikan padaku. Aku muak!!! Aku benci!!! Tidak cukup berartikah aku di mata kalian???"
Entah apakah dia masih sanggup bertahan dengan keadaan yang selalu berulang di mata dia. Tak peduli bagaimanapun kerasnya dia berusaha menyembuhkan luka yang dirasa, sakit itu akan tetap tinggal. Bahkan akan semakin parah karena selalu tak lama kemudian akan muncul luka baru yang menambah perih...
Categories
cerita mereka
Subscribe to:
Posts (Atom)



